Joshua: Rekonsiliasi, betapapun tak mulusnya, betapa pun berat dan berliku jalan itu, harus ditempuh

MarsinahFM. Kehadiran film Jagal (The Act of Kiling) dan Senyap (The Look of Silence) membuka tabir kesunyian di tengah-tengah masyarakat Indonesia dan memaksa khalayak untuk menatap sejarahnya sendiri. Kengerian atas pengakuan pelaku dan berlanjut dengan keberanian sosok Adi Rukun seolah menampar wajah kita sendiri atas peristiwa yang selama puluhan tahun ditutupi dan selama periode Orde Baru dibenarkan dengan kebencian yang sebenarnya tak masuk akal. 

Benar saja, Indonesia Menonton Senyap yang digelar di berbagai tempat dari sabang sampai merauke. beberapa diantaranya diancam dibubarkan dan beberapa lagi lainnya benar-benar dibubarkan oleh serangan preman tanpa perlindungan dari aparat kepolisian. UGM akhirnya bersikap dan masih menanti lagi sikap – sikap berbagai pihak untuk Membela Senyap. 

Sumbangan dari film Jagal dan Senyap adalah memicu pendiskusian, pembicaraan soal tragedi 1965 menjadi kian ramai dan riuh. Namun, yang paling penting dari itu semua, adalah penegakan kebenaran itu sendiri. Rekonsiliasi tanpa penegakan kebenaran dan keadilan bagi korban seperti memaksa korban dan masyarakat untuk abai pada luka masa lalu tanpa obat, tanpa keadilan. Biarlah liku menemu kebenaran itu meniti jalannya, hingga suatu nanti, ia bisa tegak dan kita bisa menjadi rantai kebenaran itu sendiri.  

Berikut adalah petikan wawancara Marsinah FM dengan Josua Oppenheimer dan Anonimous 1 tentang film Senyap yang sudah launching dan sedang diputar di Indonesia di berbagai kota, sejak Hari HAM, 10 Desember 2014 dan menghadapi pembubaran di beberapa tempat. 

 

Apakah ide membuat Senyap datang dari Adi? Bagaimana Joshua melihat Adi? Terasa sekali Senyap sangat kuat dalam karakter Adi, sejauh mana Adi membentuk Senyap dan apa peran Josua?

Saya melihat Adi sebagai orang yang berani sekaligus lembut. Film Senyap adalah sebuah kerangka bagi cerita dan harapan para penyintas dan keluarga korban pembantaian massal 1965, dan Adi menjadi tokoh yang merepresentasi berbagai cerita dan harapan itu. Adi Rukunlah yang mendorong saya untuk mamfasilitasi pertemuan dengan para pembunuh massal sejak pertama kali ia melihat dokumentasi yang saya dapatkan dari pembunuh kakaknya, Ramli. Semangat, harapan, dan keberanian Adi yang menjadi simbol dari keberanian para penyintas dan harapan jutaan anggota keluarga korban lainnya adalah semangat yang kami bawa sepanjang proses pembuatan film Senyap ini.

Dengan diputarnya Senyap dalam Indonesia Menonton Senyap, tercapai satu memecah kebisuan. Apa yang kemudian Josua harapkan?

Dengan diputarnya Senyap di seluruh Indonesia saya berharap bahwa terbuka banyak ruang-ruang pembicaraan di masyarakat mengenai persoalan kejahatan kemanusiaan di masa lalu yang masih mengganjal sampai hari ini. Harapan kami, pembuat film Senyap, ruang-ruang perbincangan itu dapat melihat dengan jernih, seperti mendapatkan kacamata sejarah yang baru, sehingga kejahatan terhadap kemanusiaan dapat dilihat sebagai kejahatan kemanusiaan, bukan lagi sebagai sesuatu babak sejarah yang diperlukan atau malah sebagai perjuangan heroik—sebagaimana didengungkan oleh Orde Baru dan para penerus Orde Baru hari ini.

Bagaimana pendapat anda tentang pemutaran film Senyap di Malang dan  beberapa kota lain  yang dibubarkan? Apa tindak lanjut dari Josua dan kawan-kawan?

Kami, terutama Tim Senyap Indonesia, terus menggalang dukungan dari berbagai pihak untuk melawan teror fasisme ini. Kita bisa melihat dalam film betapa banyak hak azasi manusia terlanggar, dan korbannya mencapai jutaan orang, ketika kita membiarkan segelintir orang memaksakan kehendaknya dengan ancaman atau kekerasan.

Kami sangat berterima kasih kepada Komnas HAM, Dewan Kesenian Jakarta, juga Universitas Gadjah Mada yang bertekad untuk melawan represi terhadap kebebasan berekspresi dan kebebasan akademik ini. Kita bicara tentang memecah kebisuan, dan bibit perbincangan yang terbebas dari rasa takut dan was-was itu memerlukan lahan kebebasan berekspresi yang memadai, jika tidak subur sekalipun.

Kami sadar bahwa dalam situasi ketika kebebasan berekspresi masih dikekang, hal sesederhana menonton film dan berdiskusi sekalipun dipaksa menjadi sebuah aksi heroik. Dan teman-teman penyelenggara pemutaran di Indonesia sudah menunjukkan bahwa mereka memang adalah pahlawan yang sesungguhnya. Kita lihat bahwa pemutaran terbuka memang sebagian ditunda dan sebagian lagi menjadi pemutaran terbatas; tapi pemutaran film Senyap, tidak pernah berhenti sama sekali.

Apa yang perlu disadari oleh para penekan, mereka yang berusaha mengembalikan rakyat Indonesia ke dalam kerangkeng 50 tahun kesenyapan, adalah bahwa film pada dasarnya adalah gagasan; dan tak seorang pun bisa menghalangi sebuah gagasan yang sudah waktunya menemui khalayaknya.

Saya akan terus menerus berutang budi pada teman-teman di Indonesia yang terus menyebarluaskan, mengadakan pemutaran, dan menumbuhkan harapan akan perlunya rekonsiliasi di tengah maraknya tekanan.

Joshua Oppenheimer Bagaimana Josua memandang pemerintah baru Jokowi?

Pemerintah Jokowi membawa harapan besar, bahkan sebelum dia terpilih dan dilantik. Jokowi dalam kampanyenya menjanjikan menyelesaikan kasus pelanggaran HAM dari masa lalu, termasuk tragedi 1965, dan ia juga berjanji untuk menghapus segala bentuk impunitas.

Harapan, dan janji politik apapun tidak akan pernah terwujud tanpa kerja dan dukungan berbagai lapis masyarakat. Film Senyap adalah salah satu bentuk dukungan itu. Kami ingin membantu masyarakat luas untuk memahami betapa penting dan dibutuhkannya rekonsiliasi itu. Jika kita masih bisa menaruh harapan pada negara, maka yang pertama kali perlu diingatkan pada diri kita sendiri adalah bahwa kita sendirilah yang membentuk negara itu.

Di dalam Jagal Josua banyak menampilkan pesan- pesan menyangkut perempuan. Apakah figur Herman di Jagal yang menari – nari dengan pakaian perempuan melambangkan Gerwani? Dan apakah dengan menampilkan cuplikan komentar nasty para anggota Pemuda Pancasila terkait perempuan, Josua mau mengatakan organisasi itu anti perempuan? Termasuk figure-figur  Orde Baru?

Herman di dalam film Jagal adalah sosok Gerwani sebagaimana dibayangkan oleh Anwar Congo dan kawan-kawan. Imajinasi itu menggambarkan perempuan komunis (padahal Gerwani tidak selalu komunis) yang mengerikan, buas, dan haus darah; dan jika ditelusur lebih jauh, lahir dari kebutuhan untuk menjustifikasi kekejian yang Anwar dkk lakukan terhadap mereka yang dituduh komunis. Ketika figur Herman dianggap pas memerankan tokoh Gerwani, dan proses pembuatan film fiksi propaganda para pelaku pembantaian massal dibuka, ketika kita melihat ‘behind the scene’nya akan tampak betapa propaganda mengenai kekejaman komunis, juga Gerwani, tidaklah berbasis pada fakta sama sekali.

Komentar jahil tentang perempuan dari anggota-anggota Pemuda Pancasila menggambarkan bagaimana di dalam lingkungan mereka, perendahan dapat tercetus begitu saja, dan merupakan hal yang sehari-hari. Bukan cuma perempuan, tapi juga Tionghoa, komunis, dan mereka yang tidak sejalan dengan mereka. Kita tak mendengar argumen, kita tidak mendengar pemaparan fakta, kita menemui sebuah kedangkalan akut di dalam sekelompok orang terorganisasi yang memegang kekuasaan besar di sebuah negeri.

Apakah Josua dkk tidak takut kehilangan benang merah kejadian 65 terkait politik secara keseluruhan ketika memfokuskan film pada figure-figur tertentu?

Film Jagal dan Senyap bukanlah sebuah film sejarah forensik yang menelaah bagaimana sebuah peristiwa di masa lalu terjadi. Film Jagal dan Senyap adalah sebuah cerita kecil, satu piksel dari gambar yang lebih besar, mengenai apa yang terjadi hari ini. Film Senyap dan Jagal lebih bercerita tentang bagaimana sejarah ditulis dan mempengaruhi kehidupan hari ini daripada berusaha menjelaskan apa yang terjadi di masa lalu.

Film, sebagaimana karya yang lain, lukisan, buku, puisi, tarian, drama, kami sadari takkan pernah secara lengkap menjelaskan realitas atau peristiwa. Bahkan gabungan dari semua karya itu, dijadikan satu, sekalipun tidak akan pernah benar-benar bisa menggambarkan realitas dalam sejarah. Pilihan harus dibuat, dan fokus harus ditentukan. Kami memilih dengan pertimbangan yang matang, lewat perdebatan yang panjang hampir tak berkesudahan mengenai garis besar cerita film yang akan kami buat. Kami juga harus melihat kekuatan utama material yang telah kami miliki dalam sepuluh tahun syuting. Apa yang kami putuskan untuk dibuat, dan setelah Jagal dan Senyap diluncurkan, maka ia menjadi salah satu dari beribu karya lain, sukur kalau bisa memperkaya perbendaharaan pengetahuan masyarakat luas. Tetapi membuat sebuah karya yang menjelaskan keseluruhan realitas—entah itu politik atau sosial—bagi kami sungguh mustahil.

Dalam Senyap kesan yang lebih kuat terangkat adalah rekonsiliasi ketimbang pengadilan. Apakah demikian pesan yang dikehendaki?

Rekonsiliasi bukanlah pilihan yang tepat disandingkan dengan pengadilan atau tanpa pengadilan. Rekonsiliasi adalah keseluruhan proses yang menghadapkan sebuah bangsa pada pertanyaan, bagaimana sebuah peristiwa penting di masa lalu yang lukanya masih menganga terbuka ini dapat disembuhkan agar semua dapat melangkah bersama ke masa depan.

Hal pertama yang diperlukan dalam rekonsiliasi adalah pengungkapan kebenaran, ketika para korban dapat menyampaikan ceritanya tanpa rasa takut, dan ketika sejarah tidak lagi menyampaikan kebohongan atau cerita sepihak saja. Film Senyap ada di bagian itu. Menunjukkan betapa pengungkapan kebenaran saja sebuah hal yang luar biasa penting tetapi juga bukan pekerjaan mudah dan mungkin berantakan. Rekonsiliasi, betapapun tak mulusnya, betapa pun berat dan berliku jalan itu, harus ditempuh.

Setidaknya ada tiga hal dalam rekonsiliasi: pengungkapan kebenaran, penegakkan keadilan, dan penyembuhan. Ada berbagai hal teknis yang rumit berkaitan dengan bagaimana kebenaran diungkap, lalu bagaimana hal itu mempengaruhi kebijakan pemerintah. Bagaimana dengan penegakan keadilan, apakah perlu pengadilan ad-hoc HAM atau tidak? Apakah pemerintah boleh memberikan amnesti pada pelaku yang dinyatakan bersalah atau tidak? Begitu pula dengan rehabilitasi, bentuk diskriminasi apa yang harus dihapus, lalu peraturan apa yang perlu dicabut, dan dalam bentuk apa, dan berapa nilainya jika itu dihitung secara material, dan diberikan dalam bentuk apa rekompensasi itu? Ini adalah tumpukan pertanyaan yang perlu dijawab bersama oleh bangsa Indonesia. Pilihan ada pada rakyat Indonesia.

Saya tidak mengajukan jawaban atau pilihan teknis, film saya ingin mengajukan sebuah gagasan bahwa peristiwa di masa lalu belum berlalu sampai itu dimaknai. Dan rekonsiliasi adalah salah satu upaya memaknai peristiwa di masa lalu yang masih membawa traumanya hari ini.

Bagaimana misi Josua dkk terhadap 65 dalam masa depan Indonesia?

Kami ingin proses rekonsiliasi yang sejati berlangsung di Indonesia ketika semua bersama-sama dengan serius berusaha menyembuhkan luka bangsa ini. Kami berharap dengan disebarluaskannya gagasan kami lewat film Jagal dan Senyap, ruang-ruang perbincangan terbentuk di banyak tempat dan dari situ lahir karya-karya baru yang terus memperluas ruang perbincangan itu dan memberikan penyadaran dan pemajuan hak azasi manusia.

Setelah ini apa? Tak ada rencana ke Indonesia?

Pertanyaan ini dapat diajukan untuk dua hal lain, dan jawabannya akan sama. Dua hal lain itu, apakah ada film ketiga untuk menggenapi trilogi; kapankah anonimitas kru asal Indonesia dihapuskan dan nama mereka muncul ke publik? Kalau rekonsiliasi yang sejati telah terjadi di Indonesia. Mungkin akan ada cerita baru yang menarik untuk dibuat filmnya. Tapi saya tidak tahu kapan.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s