Ber(T)ani karena benar

Achdan (dua dari kiri) bersama petani PT3S Desa Kuripan. | Foto: Dahlia

Achdan (dua dari kiri) bersama petani PT3S Desa Kuripan. | Foto: Dahlia

Achdan[1]

Puluhan kilometer dimulai dari petakan kamar di Omah Tani-Batang, melewati ratusan hektar sawah, ribuan kerikil, batu jalan, rasa lelah dan letih, semuanya meramu semangat dalam sebuah perjuangan. Mobil tanpa freon AC menjadi kendaraan utama menghantarkan kita semua berjuang.

Bentang  pemandangan memanjakan bola mata saya di dalam perjalanan. Salah satunya adalah lahan PT. Segayung, tanah sengketa yang sampai saat ini masih diperjuangkan oleh Organisasi PT3S -Omah Tani. Luasnya lahan PT. Segayung membuat saya lebih yakin bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Lahan sengketa seluas 250 Hektar itu sekarang ditanami tumbuhan tebu, yang semula ditanami randu dan ketela. Luas itu tidak sedikit kalau sudah menjadi hak milik Petani /Masyarakat Batang.

Hijaunya wilayah pemukiman warga yang berada di lokasi tersebut mengembalikan semua semangat saya di dalam perjalanan. Ramah tamah masyarakatnya juga yang membuat saya lebih yakin untuk tinggal bersama mereka.

Saya ditempatkan di Desa Kuripan. Sebelum diantarkan ke rumah Mas Munakib, tempat saya dititipkan, kami singgah di rumah bapaknya, Kunardi. Pak Kunardi telah sejak awal begitu baik dan terbuka menerima kami. Sambutan itu terasa sangat mewah buat kami.

Anak pertama Pak Kunardi adalah Mas Rohmat Munakib, dan istrinya bernama Suniti. Beliau memiliki dua putra yang masih dibawah umur, Adip (9 tahun) duduk di Sekolah Dasar kelas lima, serta Dwi yang duduk di kelas dua.

Dalam waktu singkat saya harus banyak belajar dari petani terkait sengketa lahan. Mulai dari perjuangan mempertahankan tanah sampai ke pembelajaran hidup keseharian, seperti membiasakan diri dengan kesadaran, tanpa harus disuruh, melakukan pekerjaan apapun selama baik untuk dikerjakan.

Sedikit saya akan tulis sejarah tanah sengketa di wilayah Desa Kuripan yang luasnya seratus enam puluh hektar. Tanah tersebut diduduki masyarakat Desa Kuripan, dan sedang diperjuangkan untuk mendapatkan sertifikasi. Berawal dari tanah yang timbul dari permukaan laut pantai utara, dan akhirnya menjadi tanah belantara yang ditumbuhi pepohonan besar bahkan sempat menjadi hutan liar. Pada masa-masa itu di Jawa Tengah masih berdiri kuat organisasi Partai Komunis Indonesia. Semua masyarakat dipekerjakan untuk menjadikan hutan belantara itu menjadi perkebunan yang khusus bagi masyarakat yang tergabung menjadi anggota. Setelah peristiwa 1965, Batang dipimpin oleh Bupati Haryono  dalam kurun waktu yang lama. Haryono kemudian meninggal terkena penyakit sampai akhirnya meninggal dunia. Ia terkenal kejam terhadap masyarakat[2], dan kematiannya membuat hampir semua masyarakat merasa merdeka. Kemudian tanah itupun diambil kembali oleh masyarakat, namun tidak dalam situasi seperti yang masyarakat harapkan. Ternyata tanah timbul dari pesisir laut itu telah diambil oleh Perhutani untuk dijadikan perkebunan dan hutan liar melalui Hak Guna Usaha (HGU) atau kontrak atas izin bupati setelah Haryono.

Sejak itulah pertarungan merebut kembali tanah sebagai hak rakyat penggarap untuk menjadi hak milik. Masyarakat membersihkan hutan dan pohon-pohon besar dan kemudian menanaminya dengan tumbuhan cepat panen, seperti jagung, singkong, dan padi. Perjuanganpun tidak hanya sekadar bisa menanam saja, masyarakat juga berfikir untuk membuat perjanjian bahkan sertifikasi tanah seluas 160 Ha itu yang dibagikan kepada masyarakat yang menggarap tanah tersebut, masing-masing  seperempat hektar. Hingga saat ini kemerdekaan hanya sebatas bercocok tanam, belum bisa mendapatkan sertifikasi. Perjuangan kawan-kawan petani tidak sebentar untuk bisa menduduki tanah sengketa. Delapan tahun lamanya mereka merebut tanah dan menanami dengan tumbuhan cepat panen yang membutuhkan banyak tenaga dan pikiran.

Foto: Dahlia

Foto: Dahlia

Seperti halnya Mas Munakib yang sampai saat ini hanya memiliki tanah 300 meter saja. Hanya bisa untuk tempat bernaung keluarga, yang terdiri dari 3 kamar petakan 3×3 meter, satu ruang tamu tanpa lantai dan meja tamu.

Mas Munakib hanya seorang petani miskin, buruh tani yang tidak memiliki lahan, hanya bekerja pada tuan tanah dan mendapatkan penghasilan 25 ribu perhari. Ia harus bekerja penuh waktu, membawa bekal makan dari rumah. Sementara kebutuhan keluarganya melebihi pendapatannya tiap hari. Kedua anaknya harus sekolah dan dapur harus terus mengepul.  Terkadang untuk memenuhi kebutuhan dapur, dia juga harus bekerja sampingan sebagai tukang ojek pengangkut sayuran dan hasil penen masyarakat ke pasar.

Karena kesulitan hidup itulah Mas Munakib memilih menjadi anggota PT3S dan Omah Tani. Sebelum ia mengikuti organisasi, jangankan tahu politik, tahu situasi di lingkungannya pun tidak. Setelah berorganisasi ia bisa tahu sedikit tentang politik, dan politik di lingkungan masyarakatnya. Menurutnya, pegalaman yang paling terkesan selama di organisasi adalah sanggup berbicara di hadapan orang banyak.

***

[1] Anggota Lingkar Studi Aksi untuk Demokrasi Indonesia (LSADI), mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN), Ciputat, DKI Jakarta.

[2] Pada masa Orde Baru tanah seluas 160 hektar itu ditutup secara sepihak. Bupati Batanglah yang mengintruksikan penutupan tanah tersebut. Pak Kar (50 tahun) menuturkan bahwa dalam kunjungan kerjanya di Jatisari Presiden Sukarno  memerintahkan perluasan tanah sawah yang telah digarap masyarakat. Presiden Sukarno memerintah masyarakat menggarap tanah-tanah kosong sebagai proyek persawahan. Sampai sekarang tanah-tanah itu disebut sebagai tanah proyek. Tetapi penggarapan tanah-tanah proyek itu tak lama, karena pada tahun 1965/1966 pemerintahan Sukarno jatuh dan terjadi perubahan situasi politik. Sekitar tahun 1966–1967 Bupati Haryono memerintahkan pengosongan tanah–tanah proyek itu. Namun, masyarakat tak begitu saja menjalankan perintah itu. Banyak yang mempertahankan tanah–tanah garapannya, namun justru mereka mendapat perlakuan tak adil. Orang-orang Bupati menebas habis padi yang mereka tanam. Petani tidak mendapatkan ganti rugi bahkan diusir, dibunuh dan dibuang ke Pulau Buru.– https://www.academia.edu/5905404/Buku_Dominasi_dan_Resistensi_Pengelolaan_Hutan_di_Jateng (ed)  

_____

[Narasi ini dibuat oleh para peserta Pondok Mahasiswa 2 untuk menyarikan pengalaman dan kesan mereka selama mondok di Omah Tani maupun di kediaman warga anggota Omah Tani.  Pondok Mahasiswa adalah program pendidikan politik yang diselenggarakan oleh Politik Rakyat dua kali dalam satu tahun. Pondok Mahasiswa ke-2 kali ini diselenggarakan di Omah Tani, Batang, Jawa Tengah, dari tanggal 11-25 Agustus 2014. Sebanyak 24 peserta (7 perempuan & 17 laki-laki) datang dari Palu, Makassar, Samarinda, Balikpapan, Tuban, Yogyakarta, Semarang, Purwokerto, Serang, dan Jakarta. Selanjutnya Pondok Mahasiswa akan terus menjadi jembatan antar generasi perjuangan, jembatan bagi pengetahuan dan pengalaman juang, dan jembatan antar permasalahan rakyat.]

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s