Strategi dan Partai

"Ide-ide bagus hanyalah langkah pertama, saya lanjutkan melangkah untuk meletakkan ide ke dalam praktek"

“Ide-ide bagus hanyalah langkah pertama, saya lanjutkan untuk meletakkannya ke dalam praktek”

5 Juli 2011, oleh Daniel Bensaïd

Diterjemahan dari IVP oleh Savana

Tulisan di bawah ini berdasarkan transkrib pidato Daniel Bensaïd yang disampaikannya dalam Youth Camp Fourth Internasional di Barbaste, Perancis, pada bulan Juli 2007. Sub-sub judul ditambahkan.

Soal “strategi” sekali lagi jadi tren, seperti halnya kata ‘strategi’ itu sendiri. Boleh jadi serasa sepele, namun banyak hal telah berbeda di tahun 1980-an dan awal 1990-an. Pembicaraan di masa itu paling banyak seputar perlawanan; diskusi persoalan strategi praktis hilang. Waktu itu, semuanya hanya berpegang teguh (pada prinsip) tanpa mesti tahu bagaimana kita bisa keluar dari situasi defensif ini. Diskusi seputar persoalan strategi berlanjut karena situasi itu sendiri telah berkembang. Sederhananya, sejak kemunculan Forum-forum sosial, seruan “dunia lain adalah mungkin” telah menjadi satu slogan di tataran massa atau setidaknya tersebar luas. Persoalan yang sekarang mengemuka adalah: “Dunia lain apa yang mungkin itu?” dan “Apa yang kita maksud dengan dunia lain itu?” dan yang terpenting “Bagaimana kita bisa sampai pada dunia yang mungkin dan diperlukan tersebut?” Dan itulah persoalan strategi—tak saja kebutuhan mengubah dunia namun juga kebutuhan menemukan jawaban tentang bagaimana mengubahnya, dan bagaimana berperan untuk mengubahnya.

Catatan Awal

Sebagai pembuka ketika kita bicara strategi, taktik, dan bahkan gagasan perang posisi dan perang pergerakan—dalam tradisi kawan-kawan Italia yang tahu Gramsci—dan lain-lain, kita menggunakan kosa kata yang dipinjam dari militer, khususnya dari buku teks sejarah militer. Ia jadi bagian kosa kata gerakan buruh pada awal abad ke 20. Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa kita harus jelas: ketika kaum revolusioner bicara strategi, bukan melulu menyangkut konfrontasi kekerasan atau konfrontasi militer dengan aparatus negara. Melainkan adalah serangkaian slogan dan bentuk-bentuk organisasi politik; dan seperangkat politik, kesemuanya bertujuan untuk mentransformasi dunia.

Yang kedua, persoalan strategi memiliki dua dimensi yang saling melengkapi dalam sejarah pergerakan kelas pekerja. Sebagai pembukaan adalah persoalan tentang bagaimana mengambil kekuasaan di negeri tertentu. Ini muncul dari gagasan bahwa revolusi dimulai dengan penaklukan kekuasaan di satu negeri, atau di beberapa negeri, namun juga pada level bangsa, dimana di dalamnya relasi-relasi kelas dan relasi berbagai kekuatan diorganisasikan atas landasan sejarah yang spesifik, capaian sosial yang spesifik, dan seperangkat hubungan spesifik yang ditetapkan oleh UU. Bagian dari persoalan yang dimaksud ini—penaklukan kekuasaan di satu negeri seperti di Bolivia dan Venezuela saat ini, dan marilah berharap di negeri Eropa nanti tak lama lagi—masih terus ada di dalam agenda dan bersifat fundamental. Posisi ini berkebalikan dengan klaim beberapa aliran—seperti di beberapa negeri Amerika Latin dan Italia yang terinspirasi Antonio Negri—yang percaya bahwa persoalan pengambilan kekuasaan di satu negara sudah tidak relevan dan bahkan bisa reaksioner karena membatasi perjuangan di dalam kerangka bangsa sendiri. Kita percaya bahwa perihal perjuangan merebut kekuasaan masih dimulai dari level hubungan-hubungan antar kekuatan di tingkat naional, namun hubungan tersebut lebih dekat berkelitkelindan dengan dimesi kedua dari persoalan yang strategis—yakni strategi pada skala internasional, kontinental, dan sekarang global.

Hal ini telah menjadi persoalan di awal abad 20; dan oleh karenanya makna gagasan revolusi permanen—yang berarti memulai revolusi di satu atau beberapa negeri, sambil perihal sosialisme segera diangkat melalui perluasan revolusi ke seluruh benua atau ke seluruh dunia. Persoalan ini adalah persoalan fundamental bagi generasi revolusioner seperti Lenin, Trotsky dan Rosa Luxemburg, dan bahkan lebih fundamental lagi bagi generasi kita saat ini. Kita lihat ini terbukti di Venezuela, dimana minyak dapat dinasionalisasi dan beberapa derajat kemandirian dari imperialisme dapat dicapai, namun masih sangat terbatas jika proses revolusioner belum meluas ke Bolivia, Ekuador, dan menjadi proyek seluruh Amerika Latin, yaitu Revolusi Bolivarian. Jadi, kita memiliki dua problem ganda—mengambil alih kekuasaan di negeri-negeri tertentu namun sekaligus dengan visi untuk menggunakannya sebagai batu loncatan agar lebih jauh meluaskan revolusi sosial ke tingkat global.

Poin terakhir dari catatan awal terkait strategi revolusioner ini adalah menjawab tantangan nyata yang tidak terselesaikan di dalam pekerjaan Marx. Kaum buruh—kelas pekerja— secara umum dihancurkan tak saja secara fisik namun juga moral dan intelektual oleh kondisi eksploitasi. Di dalam halaman demi halaman Capital, Marx menggambarkan bagaimana kehinaan yang datang dari kerja, ketiadaan waktu luang dan mustahilnya menemukan waktu menikmati kehidupan, membaca, dan belajar. Bagaimana bisa sebuah kelas yang menanggung penindasan total semacam itu secara bersamaan juga sanggup membayangkan dan membangun suatu masyarakat baru? Marx mengatakan bahwa persoalan itu akan teratasi melalui cara yang agak natural: industrialisasi di akhir abad abad 19 menciptakan kelas pekerja yang semakin terkonsentrasi—dan membuatnya semakin terorganisir, yang oleh karenanya, menjadi semakin sadar. Kontradiksi antara kondisi kehidupan yang dieksploitasi dan dihancurkan, dengan kebutuhan untuk membangun suatu dunia baru, akan diatasi oleh suatu dinamika sejarah yang nyaris spontan. Namun seluruh pengalaman di akhir abad ini menunjukkan kapital (masih) terus menerus memproduksi perpecahan antar orang-orang tertindas; dan ideologi (dominan) juga (masih) mendominasi orang-orang yang terdominasi. Ini bukan saja karena media memanipulasi opini publik, meskipun benar dan semakin menunjukkan kebenaran, namun juga disebabkan karena syarat-syarat dominasi terhadap orang-orang yang dieksploitasi, termasuk syarat yang bersumber ideologis, berakar di dalam hubungan kerja itu sendiri—mengingat pekerja tidak mengontrol instrumen kerja mereka maupun tujuan produksinya. Seperti Marx katakan bahwa pekerja adalah pelengkap mesin ketimbang sebaliknya. Inilah sebabnya mengapa banyak fenomena di dunia modern tampil sebagai kekuatan aneh dan misterius dihadapan manusia. Kita dikatakan tak boleh lakukan ini atau itu karena pasar akan berang, seakan-akan pasar adalah figur mahakuasa, seakan-akan uang itu sendiri adalah figur mahakuasa, dan seterusnya. Saya tak bisa lebih mendalam terkait hal itu disini, namun penting untuk ditekankan bahwa relasi sosial kapitalis menciptakan suatu dunia ilusi, sebuah dunia fantasi, dimana yang terdominasi juga menanggungnya, dan darinya mereka mesti membebaskan diri.

Inilah alasan mengapa perjuangan spontan melawan eksploitasi, penindasan, dan diskriminasi diperlukan. Perjuangan ini adalah bensin bagi revolusi. Namun demikian perjuangan spontan tidak cukup untuk memutus lingkaran setan hubungan antara kapital dan (pe)kerja. Harus ada bagian kesadaran dan kemauan, suatu elemen yang sadar, dan itulah elemen aksi politik dan kehendak politik yang diemban oleh partai. Partai tidaklah asing bagi masyarakat dimana ia berada. Bahkan di dalam organisasi-organisasi paling revolusioner, kita mengalami dampak akibat pembagian kerja dan keterasingan—keterasingan dari olah raga misalnya, ketika ia sedang sangat trendi di musim ini—namun organisasi revolusioner setidaknya memperlengkapi dirinya dengan alat untuk melawan secara kolektif dan menghancurkan mantra serta kharisma menggoda ideologi borjuis.

Mengambil” kekuasaan?

Beberapa hal dasar perlu disampaikan ketika kita berangkat dari hal tadi. Orang-orang bertanya pada kita, “Tapi apa artinya menjadi seorang revolusioner di abad 21 ini? Apa kau mendukung kekerasan?” Mari kita mulai dengan, seperti kata Ketua Mao, revolusi bukanlah pesta makan malam.Musuh begitu ganas dan berkuasa, sehingga perjuangan kelas adalah memang sebuah perjuangan—dimana dalam banyak hal berlangsung tanpa ampun, namun bukan karena kita mengharuskannya demikian. Sehingga memang ada yang disebut kekerasan revolusioner yang sah; namun tak seharusnya kita membuatnya menjadi berhala, dan bagi kita (kekerasan) itu bukanlah karakter utama revolusi. Kita bahkan sangat ingin menjadi pecinta damai, dimana semua orang saling mencintai. Namun pertama-tama kita mesti menciptakan syarat agar hal itu dapat terjadi. Hal yang menentukan revolusi bagi kita, oleh karena itu, adalah keharusan mengubah dunia yang semakin tidak adil ini—dan memang semakin penuh kekerasan. Dan mengubah dunia, terutama, menghendaki kita dapat memenangkan penaklukan kekuasaan.

Namun apa artinya mengambil kekuasaan? Ia bukanlah merebut kendali suatu alat, menduduki suatu posisi, atau mengambil alih aparatur negara. Mengambil kekuasaan berarti mentransformasi relasi kekuasaan dan properti (kepemilikan). Yakni membuat kekuasaan beberapa orang atas banyak orang semakin berkurang, dengan semakin banyak tanggung jawab bersama secara kolektif. Untuk mencapainya kita harus mengubah relasi pemilikan, yang artinya mengatasi pemilikan pribadi dalam alat-alat produksi, pertukaran, dan yang semakin merajalela belakangan ini, pemilikan pengetahuan. Melalui (hak) paten dan (hak) intelektual, telah terus terjadi privatisasi pengetahuan yang sebetulnya diproduksi secara kolektif oleh semua manusia. Bahkan, gen pun telah dipatenkan, demikian pula bahasa dan formula matematika dapat juga diprivatisasi di masa yang akan datang. Kita saksikan privatisasi ruang, dengan semakin sedikit ruang-ruang publik; kawan-kawan di Meksiko bisa menggambarkan pada kita tentang jalan-jalan pribadi di kota Meksiko, hal yang sama juga mulai kita saksikan di Eropa. Kita saksikan privatisasi alat informasi dan komunikasi, dan sebagainya, dan seterusnya. Lalu bagi kita, mengambil kekuasaan berarti mengubah kekuasaan; dan untuk dapat mengubah kekuasaan kita harus secara radikal memperbaiki relasi pemilikan dan membalikkan tren hari ini yang sudah memprivatisasi segala hal dan segalanya.

Bagaimana kita bergerak melampaui dominasi kapital, yang mereproduksi dirinya nyaris otomatis melalui pengorganisasian kerja, pembagian kerja, komodifikasi waktu senggang, dan sebagainya? Bagaimana bisa kita lari dari lingkaran setan yang akhirnya dapat membuat kaum tertindas mendukung sistem yang sama yang menindas mereka? Selama kampanye pemilu lalu di Perancis saya dengar seorang buruh bicara di TV, “Bagaimana bisaborjuis saja mampu beri suara pada yang satu kepentingan dengan mereka, sementara pekerja, bahkan mayoritas pekerja, beri suara pada yang berseberangan dengan kepentingan mereka?” Itulah bukti pekerja berada di bawah dominasi ideologi dominan. Jadi bagaimana kita melepaskan diri dari ini?

Jawaban reformis selalu terbatas hanya di dalam sistem melalui sedikit penambahan dalam keanggotaan serikat buruh, penambahan suara di tiap pemilu, dan sejenisnya. Tentu saja, semua itu penting. Tingkat jangkauan serikat buruh dan bahkan angka suara pemilu adalah indikator hubungan-hubungan kekuasaan. Di negeri-negeri kapitalis maju yang kehidupan parlementernya sekarang telah seabad bahkan lebih, kami tak akan tumbuh dari kelompok yang beranggotakan beberapa ratus orang atau beberapa ribu orang saja, hingga dapat memenangkan kekuasaan, tanpa membangun hubungan kekuatan bersama buruh-buruh yang terorganisir dan berbagai pergerakan sosial—namun juga di dalam arena elektoral, terlepas dari banyak ketidaksempurnaannya. Namun demikian, Ilusi reformis sebenarnya mengatakan—seperti yang biasa dikatakan formula kunonya—bahwa mayoritas elektoral pada akhirnya akan merefleksikan mayoritas sosial; dan bahwa, sebagai hasilnya, masyarakat dapat diubah melalui proses elektoral secara langsung. Semua pengalaman di abad 19 dan 20 telah membuktikan sebaliknya. Kemungkinan perubahan revolusioner hanya dapat terjadi dibawah syarat-syarat situasi yang relatif luar biasa. Ada syarat-syarat terjadinya krisis revolusioner—suatu situasi revolusioner—ketika metamorfosis sejati terjadi, dan bukan saja kemajuan bertahap, namun suatu transformasi seketika dalam benak kesadaran ratusan ribu dan jutaan rakyat. Contoh yang paling terkini di Eropa adalah pada Mei 1968 di Perancis, “Mei menjalar” di Itali pada musim panas dan gugur tahun 1969, dan Portugal pada tahun 1974-1975. Kita dapat memperdebatkan apakah setiap situasi benar-benar revolusioner atau tidak, seberapa derajatnya, dan lain sebagainya. Namun, inilah pengalaman-pengalaman dimana orang dapat melihat bagaimana rakyat, seperti kata pepatah, belajar lebih banyak dalam beberapa hari ketimbang bertahun-tahun pidato, seminar, dan sejenisnya. Kesadaran berpacu cepat maju ke depan.

Ritme, organisasi mandiri, memenangkan dukungan mayoritas, dan internasionalisme

Sebagai pembuka, berbagai hal terkait strategi revolusioner mesti dimulai dari gagasan bahwa perjuangan kelas memiliki ritme; ada kalanya pasang dan surut, namun ada secara khusus periode-periode krisis ketika hubungan antar kekuatan dapat secara radikal diubah, yang memberikan kemungkinan perubahan dunia atau setidaknya perubahan masyarakat.

Ada hal kedua yang juga fundamental (dan yang saya sebutkan disini hanya poin-poin umum saja) berasal dari semua pengalaman kemenangan atau kekalahan revolusioner yang terjadi di abad 19 dan 20—dari Komune Paris hingga Revolusi Anyelir di Portugal, serta pengalaman Front Persatuan di Chili. Dalam setiap situasi krisis yang kurang lebih revolusioner, bentuk-bentuk kekuasaan rangkap muncul—artinya, organ kekuasaan berbeda dari institusi-institusi yang sudah ada. Di Itali tahun 1920-1921, dewan-dewan pabrik yang terbentuk; di Rusia, Soviet; di Jerman pada tahun 1923 juga dewan-dewan buruh; di Chili pada 1971-1973, terbentuk komite-komite buruh (cordones industriales) dan komite-komite warga setempat (comandos comunales); dan di Portugal pada 1975, terbentuk komite-komite warga dan dan pabrik yang diduduki, yang mencapai puncaknya pada majelis Setubal. Di dalam setiap perjuangan kelas yang intens melahirkan organ-organ yang kita sebut sebagai organisasi-mandiri—organisasi demokratik secara khusus bagi rakyat dan bagi kaum buruh, yang mempertarungkan legitimasi mereka melawan institusi-institusi yang ada. Namun tak berarti ada pertentangan yang absolut diantara keduanya. Sepanjang tahun 1917, Bolsheviks mengombinasikan tuntutan atas majelis konstituen yang dipilih melalui pemilihan umum, dengan pembangunan soviet. Terdapat pemindahan legitimasi dari satu organ ke organ lainnya yang sama sekali tidak otomatis. Kita harus menunjukkan dalam praktek bahwa organ-organ kekuasaan rakyat lebih efektif di masa krisis—lebih demokratik dan lebih sah dibanding lembaga borjuis. Namun tidak akan ada situasi yang benar-benar revolusioner tanpa kemunculan, setidaknya, beberapa elemen dari apa yang kita sebut dualitas kekuasaan atau kekuasaan ganda.

Hal ketiga adalah memenangkan dukungan mayoritas sebagai pra kondisi revolusi. Yang membedakan revolusi dengan kudeta atau putsch adalah revolusi merupakan pergerakan yang mendapatkan dukungan mayoritas rakyat. Kita harus mengikuti pesan yang ada dalam pengertian bahwa pembebasan pekerja akan dapat dicapai oleh pekerja itu sendiri; sehingga, betapapun berani dan militannya kaum revolusioner, mereka tidak dapat membuat revolusi atas nama mayoritas rakyat. Inilah perdebatan utama pada kongres-kongres awal Komunis Internasional (Komintern), khususnya pada kongres ketiga dan keempat setelah bencana kejadian “March Action”1 di Jerman tahun 1921—aksi putschist (dalam skala seluruh negeri, berarti hanya melibatkan ratusan ribu orang saja) yang memang (masih) minoritas. Inilah kemudian yang menyebabkan perdebatan dalam Komintern terkait mereka yang berpikir sanggup secara mekanik meniru Revolusi Rusia. Intinya adalah tidak ada cara menghindar untuk dapat memenangkan dukungan mayoritas rakyat. Ini bukan mengenai hasil pemilu—karena bukan hal yang legalis dengan mengatakan bahwa tak ada yang bisa kita lakukan selama kita belum memenangkan mayoritas di parlemen—melainkan mengenai memenangkan legitimasi di hadapan mayoritas kalangan rakyat, sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda.

Jika anda membaca Sejarah Revolusi Rusia oleh Trotsky—sebagai buku yang terus berguna dibaca—anda dapat rasakan bagaimana ia begitu waspada bahkan pada sedikit pergeseran (politik) sekalipun di level kecamatan, pada pemilu lokal, dan seterusnya. Dalam pandangannya, ini adalah semacam indikasi kemungkinan yang sedang berkembang di kalangan massa. Memenangkan dukungan mayoritas menjadi persoalan utama dalam Komintern sejak kongres ketiga di tahun 1921 dan seterusnya, yang perdebatannya menimbulkan satu gagasan yang disebut front persatuan, tuntutan transisi, dan kemudian hegemoni, khususnya berkat Gramsci. Ini adalah persoalan memenangkan hegemoni; revolusi tidak bisa disempitkan menjadi konfrontasi antara kapital dan tenaga kerja di tempat kerja. Revolusi juga menyangkut kemampun proletariat menunjukkan bahwa masyarakat yang berbeda (lain) adalah mungkin, dengan proletariat itu sendiri bertindak sebagai kekuatan pendorong dibalik kerja keras tersebut. Dan kekuatannya mesti ditunjukkan sebelum pengambilalihan kekuasaan, agar tak sampai menjadi lompatan menuju sesuatu yang tak diketahui, lompat-lari yang setengah hati, hancurkan dan rebut, atau putsch. Jadi pengertian tuntutan transisi serta front persatuan adalah alat-alat untuk memenangkan dukungan mayoritas.

Pengertian tuntutan transisi boleh jadi tampak sederhana. Di Perancis, kami sangat berbahagia dengan kampanye pencalonan Olivier Besancenot sebagai presiden, namun sekarang, upah minimum 1500 Euro sebulan dan distribusi kekayaan yang lebih adil bukanlah tuntutan yang sangat revolusioner. Beberapa tahun lalu, tuntutan itu bahkan tampak sangat reformis. Kini tuntutan itu justru tampak radikal karena reformis bahkan tak ambil pusing dengan tuntutan seperti itu lagi. Tuntutan-tuntutan dan slogan tidak memiliki nilai magis; ia tidak mengandung nilai yang inheren di luar situasi tertentu, sebagai titik berangkat bagi kesadaran yang baru terbangun. Ketika kita bilang tidak bisa hidup layak di negeri seperti Perancis dengan upah kurang dari 1500 Euro per bulan, kita dianggap tidak realistis, dan jika kita naikkan upah maka kapital akan lari. Ini menimbulkan pertanyaan berikutnya: bagaimana kita mencegah larinya kapital? Maka kita harus menanggulangi spekulasi finansial dan pemilikan pribadi. Hak atas perumahan menimbulkan pertanyaan terkait pemilikan pribadi atas tanah dan pemukiman (real estate). Sehingga perumahan adalah tuntutan yang pada waktu-waktu tertentu mengkristalisasi persoalan yang dapat rakyat pahami dan yang dapat digunakan sebagai batu loncatan untuk memobilisasi ribuan atau ratusan ribu rakyat. Hasilnya akan memungkinkan rakyat belajar setapak demi setapak melalui aksi—tak saja melalui kata-kata dan pidato—menyangkut logika sistem kapitalis, dan mengapa, bahkan, untuk tuntutan yang elementer (dasar) dan sah semacam itu pun berlawanan secara langsung dengan logikanya.

Perdebatan ini mungkin tampak elementer bagi anda hari ini. Namun dalam perdebatan yang terjadi di Komintern, mereka yang hendak meniru Revolusi Rusia menyerukan agar proletariat segera dipersenjatai. Ya, tentu saja, dalam rangka melawan musuh memang akan ada masanya sampai pada tuntutan itu. Namun sebelum sampai pada titik itu, pertama-tama harus ada kebangkitan kesadaran secara seksama yang dimulai dari tuntutan paling dasar seperti pergeseran skala upah, pembagian waktu kerja, dan lain sebagainya. Mungkin terdengar lugas bagi kita, namun tak pernah berupa keniscayaan pada saat itu. Inilah subjek yang terus menerus dan paling panas memanen perdebatan dalam Komintern. Ketika tiba pada tuntutan yang dilihat jadi kebutuhan dan fundamental bagi banyak orang, kita menyerukan persatuan seluas mungkin diantara mereka yang siap mengobarkan perjuangan serius dalam dukungan mereka. Inilah sebabnya tuntutan transisi berkaitan dengan front persatuan. Kita sepenuhnya tahu kaum reformis tidak akan melihat segala sesuatu hingga ke ujungnya. Kita tahu mereka akan luluh pada ancaman dan langsung menyerah jika kapital menjatuhkan ultimatum pada mereka. Namun tetap saja, perjalanan bersama akan menjadi nilai pendidikan bagi mereka yang benar-benar mau berjuang hingga akhir dalam mempertahankan kebutuhan dan kebudayaan mendasar—hak untuk hidup layak, kesehatan, pendidikan, perumahan, dan lain sebagainya. Langkah maju dapat dibangun atas landasan ini.

Terakhir, hal yang keempat adalah karena kita tidak berpikir bahwa revolusi dapat menuju ke masyarakat yang lebih egaliter hanya di satu negeri, terkurung oleh pasar dunia, kita berusaha membangun suatu hubungan kekuatan-kekuatan internasional sejak awal. Membangun suatu pergerakan internasional adalah bagian dari program. Dan ini menghendaki bentuk seperti Internasionale jika memungkinkan, namun juga jaringan seperti Kiri Anti Kapitalis Eropa, pertemuan-pertemuan kaum revolusioner di Amerika Latin, dan lain-lain. Ini bukan hal teknis; ia merupakan terjemahan suatu pendekatan politik terhadap revolusi yang berkarakter internasional ke dalam praktek.

Hipotesa strategis dan bukan model

Di sisa 12 menit ini, saya mau mengangkat dua poin terakhir. Pertama, kita sering ditanya apakah kita punya model masyarakat yang hendak kita bangun. Kita tidak punya model itu. Anda tidak bisa mengatakan bahwa pembebasan pekerja akan dicapai oleh pekerja itu sendiri sambil mengklaim memiliki cetak biru masyarakat masa depan di tas ranselmu. Namun demikian, apa yang kita punya adalah memori dari serangkaian pengalaman perjuangan, revolusi, kemenangan, dan kekalahan yang dapat kita bawa serta, pelihara, dan teruskan pada orang lain. Apa yang kita punya bukan sebuah model bagi masyarakat melainkan hipotesa atas suatu strategi revolusioner.

Di negeri-negeri kapitalis maju, dimana pekerja upahan merupakan mayoritas rakyat usia aktif, kita mengembangkan gagasan pemogokan umum insureksional. Ini mungkin bagi sebagian orang tampak sebagai gagasan abad 20 atau bahkan abad 19, namun ia tak mesti berarti bahwa revolusi akan mengambil bentuk pemogokan umum sempurna—suatu pemogokan umum dengan piket bersenjata dan insureksional. Namun itu juga berarti bahwa kerja kita diorganisasikan sejalan dengan perspektif ini. Melalui perjuangan, pemogokan lokal, pemogokan regional, dan sektoral, kita mencoba membiasakan kaum buruh dengan gagasan pemogokan umum. Hal ini penting karena dalam situasi krisis memungkinkan membuat reaksi massa yang spontan ke arah itu. Pada waktu kudeta Pinochet di Chili pada September 1973, presiden Allende tidak menyerukan pemogokan umum meskipun ia masih dapat menyiarkannya melalui radio. Jika saja ada kerja yang bermetode dan sistematis menuju kesini, mestinya dapat terjadi suatu pemogokan spontan dengan pendudukan-pendudukan pabrik. Boleh jadi ia tidak mencegah kudeta namun (jika dilakukan) tentu saja akan membuat kudeta jauh lebih sulit. Apalagi perjuangan yang kalah setelah bertempur maksimal selalu dapat kembali lebih mudah ketimbang kalah tanpa bertempur. Mengembangkan gagasan pemogokan umum bukan berarti menyerukannya setiap waktu; namun berarti merawat gagasan itu sehingga akan menjadi respon spontan kaum buruh melawan serangan pengusaha, di hadapan kudeta atau represi anti demokratik. Sangat sulit membayangkan pemberontakan Juli 1936 di Catalonia dan Spanyol melawan kudeta dapat terjadi tanpa kerja persiapan yang dilakukan POUM dan kaum anarkis, tanpa pengalaman tahun 1934 di Asturia, dan lain-lain. Bekerja dengan perspektif pemogokan umum tak berarti kita memproklamirkannya secara sembarangan dan abstrak, melainkan mencoba mengambil setiap pengalaman yang dalam banyak kasus melahirkan kebiasaan dan keseharian serta membangun refleks, dalam gerakan kelas pekerja. Insureksi tidak selalu seperti yang dimodelkan dalam film—luar biasa—Eisenstein mengenai insureksi Oktober di Rusia. Ia dapat berwujud sederhana seperti barisan pertahanan diri atau aksi penjagaan; dan bekerja pada komite prajurit/tentara ketika ada wajib militer di Perancis dan Portugal. Insureksi merupakan persoalan mengganggu kekuatan represi borjuis. Inilah benang merah yang membuat kita mampu mengaitkan perjuangan harian, sekalipun sangat moderat, dengan tujuan akhir kita.

Belakangan ini banyak kawan-kawan seperjuangan di Itali, Perancis, dan tempat-tempat lainnya, memfokuskan pada perlunya membangun organisasi yang independen dari partai-partai sosial-liberalisme, Sosial demokrasi dan sejenisnya. Namun mengapa kita ingin suatu organisasi yang independen? Karena kita memiliki tujuan yang berbeda, dan karena kita memiliki gagasan kemana kita akan menuju. Kita tahu bahwa berpartisipasi bersama Sosial Demokrat dalam pemerintahan borjuis—sekalipun dapat memenangkan beberapa perubahan kecil—akan membawa kita makin jauh dari tujuan ketimbang mendekatkannya, karena tindakan itu menambah kebingungan dan tidak menunjukkan kejelasan. Tentu saja, jika kita tidak perduli pada tujuan akhir bahkan tak memiliki setidaknya sedikit gagasan mengenai bagaimana kita berencana sampai ke sana, walaupun bukan satu jawaban definitif, maka kita akan terhuyung-huyung oleh tantangan taktis yang paling sederhana sekalipun, oleh kekecewaan elektoral sedikit saja, oleh kemunduran kecil, dan seterusnya. Kita perlu gagasan jernih untuk membangun sesuatu yang bertahan lama dalam jangka waktu lama. Dalam semua kemungkinan, revolusi memberi kita kejutan. Revolusi-revolusi di masa mendatang tak akan pernah berupa pengulangan sederhana dari revolusi masa lalu, dikarenakan masyarakat juga tak lagi sama. Saya seringkali mengatakan bahwa kita dalam situasi saat ini seperti pasukan yang dilatih dalam perguruan militer berdasarkan pertempuran masa lalu. Namun pertempuran baru tak akan pernah sama, dan karena itulah orang berkata bahwa para pasukan selalu ketinggalan satu pertempuran di belakang. Dan kita selalu beresiko ketinggalan satu revolusi. Bahkan yang paling revolusioner diantara kita dibuatnya terkejut. Diluar reputasinya, ambil contoh Bolshevik, terpecah pada waktu insureksi Oktober. Tak satupun organisasi revolusioner berupa partai monolitik yang terbuat dari baja. Uji akhir akan datang ketika kesempatan untuk revolusi menunjukkan dirinya.

Persoalan partai

Poin terakhir yang ingin saya angkat adalah persoalan partai. Ini bukanlah hal teknis—bukan sekadar mengatakan jika kita punya strategi dengan demikian kita perlu instrumen paling cocok dengannya. Tidak, bukan begitu, persoalan partai sebetulnya sentral terhadap strategi itu sendiri. Sebuah strategi tanpa partai seperti perwira militer yang punya rencana pertempuran beserta peta-petanya dari kantor pusat angkatan bersenjata namun tidak punya pasukan atau tentara. Strategi dapat bermakna strategi jika memiliki kekuatan penopangnya, mengujicobakannya dan menerjemahkannya ke dalam praktek dari hari ke hari. Inilah keseluruhan perbedaan antara gagasan partai dalam partai-partai sosial demokrat sebelum tahun 1914 dengan gagasan Lenin tentang partai. (Saat ini, Lenin tak lagi sangat populer, tak saja di kalangan Kiri dan bahkan di kalangan Kiri radikal. Ia digambarkan sebagai yang otoriter dan sejenisnya, dan saya pikir tuduhan itu sangat tidak adil. Namun ini bukan topik yang kita bicarakan sekarang.) Bagaimana Lenin mengubah atau bahkan merevolusionerkan gagasan partai? Partai-partai besar sosial demokrasi memandang peran mereka pada dasarnya sebagai pendidik, yang memainkan peran sebagai guru. Hal ini didasarkan pada konsepsi bahwa pergerakan massa memiliki semacam logika spontan dimana padanya partai berkontribusi gagasan, dengan sekolah-sekolah yang menarik dan seterusnya. Seperti dikatakan pimpinan terkenal Sosial Demokratik sejak periode pra tahun 1914, peran partai bukanlah untuk mempersiapkan revolusi. Lenin mengambil pendekatan yang sama sekali berbeda. Pandangannya adalah, partai tidak boleh membatasi dirinya hanya untuk menemani dan menginformasikan pengalaman massa, namun juga harus mengambil inisiatif, memberi landasan untuk perjuangan, menyarankan tuntutan yang berkaitan dengan situasi yang ada dan, ketika tiba waktunya, berada dalam posisi memandu aksi. Hal ini dapat diformulasikan dalam satu formula: pengertian yang berlaku selama masa-masa kejayaan Internasionale Kedua adalah suatu partai pendidik atau pengajar, dengan Lenin di dalam Internasionale Ketiga maka pengertian yang berlaku adalah strategisasi partai—suatu partai yang mengorganisasikan perjuangan berdasarkan tujuan-tujuan yang dinyatakan, yang juga dapat mengorganisasikan dan mengantisipasi kekalahan dengan mempersiapkan langkah mundur jika dibutuhkan. Saya ingat episode terkemuka buruh-buruh Petrograd dan Moscow yang bisa menderita kekalahan telak pada bulan Juli 1917 jika tidak ada partai yang mengorganisir langkah mundur dan mengambil kembali inisiatif. Jadi partai bukanlah instrumen biasa. Partai tidak terpisah dari program dan cita-cita yang telah kita kita tetapkan.

Ada satu hal besar lagi yang mau saya katakan untuk merangkum komentar terkait persoalan partai ini. Bagi kita, bukan saja membangun partai untuk perjuangan, aksi, pertempuran dan sejenisnya. Tetapi juga berupa partai yang mesti demokratis dan pluralis. Hal ini seringkali jadi masalah dalam tradisi kita; biasanya selalu berdampak pada obsesi atas aliran/tendensi, dan semacamnya. Hal itu sesekali dapat bermanfaat, namun di lain waktu bisa kurang bermanfaat. Namun demikian meski adanya kekurangan itu, kita merasa sangat yakin atas hal ini. Pluralisme di dalam organisasi berarti kita tidak memegang kebenaran yang final, dan memungkinkan terjadinya saling tukar pikiran terus menerus antara partai yang hendak kita bangun dengan pengalaman pergerakan massa. Karena pengalaman ini berbeda-beda, keragaman ini boleh jadi direfleksikan dari waktu ke waktu menjadi aliran di kalangan kita sendiri. Ada alasan tambahan lainnya. Kita berjuang untuk masyarakat yang pluralis, dan kita percaya bahwa pluralitas partai adalah mungkin di dalam masyarakat semacam itu—termasuk pluralitas partai-partai yang mendukung sosialisme. Kita mengambil posisi semacam itu atas dasar pelajaran yang diperoleh dari pengalaman Stalinisme. Sehingga jadi logis kita harus membangun demokrasi di dalam organisasi kita sendiri, dalam organisasi kaum muda kita dan dalam seksi-seksi Internasionale kita—namun juga di dalam kerja yang hendak kita lakukan di serikat buruh, dan organisasi-organisasi gerakan sosial.

Adalah penting berbagai pandangan berbeda tentang dunia direfleksikan di dalam organisasi-organisasi bersama—karena akan membuat perjuangan lebih efektif; karena tidak bisa ada persatuan tanpa demokrasi; dan karena kita menginginkan persatuan yang luas melawan Sarkozy atau siapapun. Jadi demokrasi adalah pra kondisi untuk persatuan, bukan hambatan. Kebudayaan demokratik akan memainkan peran penting di masa depan, karena birokrasi dan birokratisasi tidak muncul dari Stalinisme belaka. Beberapa percaya persoalan ini membuka jalan bagi Stalinisme, namun yang pasti tidak demikian. Birokrasi tidak hadir dari partai—atau yang disebut beberapa orang hari ini sebagai akibat dari “bentuk partai”. Melainkan datang dari pembagian kerja sosial dan ketimpangan. Serikat buruh dan organisasi gerakan sosial tidak kurang birokratis dibanding partai—bahkan bisa lebih birokratis karena ada kepentingan material didalamnya. NGO dunia ketiga, yang hidup dari subsidi Ford Foundation atau Friedrich Ebert Stiftung SPD Jerman, dalam banyak hal sama birokratisnya dan bahkan lebih korup. Birokrasi tidak muncul dari bentuk organisasional tertentu. Akar birokrasi dapat ditemukan dalam pembagian kerja antara kerja intelektual dan manual, dalam distribusi waktu luang yang timpang, dan lain sebagianya. Ini artinya bahwa demokrasi dalam masyarakat dan dalam organisasi kita adalah satu-satunya senjata yang dapat kita gunakan.

Hal ini bahkan lebih penting sekarang, dan saya akan mengakhirinya pada poin ini. Terdapat pandangan yang meluas bahwa rakyat dipaksa masuk ke partai, seperti di ketentaraan—dengan disiplin, otoritas, hilangnya keindividuan setiap anggota, dan sebagainya. Saya rasa hal yang justru sebaliknya memang benar. Anda tidak dapat membebaskan diri sendiri seorang diri dan anda tak bisa terinspirasi sendirian. Anda akan menjadi demikian di dalam organisasi perjuangan kolektif, dalam batasan individualitas anda sendiri. Jika anda lihat pada pengalaman politik terkini, partai-partai, bahkan partai-partai kecil kita, tetap menjadi wujud terbaik untuk melawan wujud birokratisasi dan korupsi oleh uang yang jauh lebih buruk—tanpa mengesampingkan kekurangan dan bahaya birokratisasi partai-partai kita tersebut. Kita hidup dalam masyarakat dimana uang ada dimana-mana dan merusak segalanya. Perlawanan seperti apa yang harus kita lakukan terhadapnya? Tentu saja bukan dengan membuatnya jadi moralis, melainkan melalui pengorganisasian perlawanan kolektif melawan kekuasaan uang. Kita juga akan melawan kekuasaan media, yang kadangkalah menyatu dan sama dengan kekuasaan uang. Media cenderung mencatut bahasa dan juru bicara organisasi-organisasi gerakan sosial dan organisasi revolusioner. Ada mekanisme dimana media mengkooptasi figur-figur politik. Jaringan TV lah yang memutuskan bahwa seseorang berwajah tampan, seseorang kelihatan keren dengan pencahayaan yang pas, seseorang lebih enak diajak kerja sama, dan seterusnya. Mereka menciptakan bintang, padahal kita memelihara kontrol atas perkataan dan juru bicara kita. Kita tidak percaya pada juru selamat atau buruh yang memiliki mukjizat. Kita tahu bahwa apa yang kita lakukan adalah hasil dari pengalaman dan pikiran kolektif. Itulah pelajaran dalam hal tanggung jawab dan kerendahan hati.

Peran utama media dalam masyarakat kita telah merusak akuntabilitas. Berapa kali kita saksikan orang yang memperkenalkan seperangkat ide tolol di satu TV pada waktu tertentu lalu berlanjut pada hal lain yang sama sekali berbeda di minggu berikutnya—tanpa pernah menjustifikasi dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas apa yang mereka pernah katakan? Ketika juru bicara kita bicara—apakah Francisco Louça di Portugal, Olivier Besancenot di Perancis atau Franco Turigliatto di Italy—mereka bertanggung jawab pada ratusan dan bahkan ribuan anggota. Mereka bukanlah individu yang bicara sekehendaknya, atas dasar emosi sekejap; mereka bicara atas nama kolektif dan memiliki tanggung jawab pada anggota yang memilih mereka. Bagi kita, ini adalah bukti berikutnya atas kredibilitas demokratik kita. Dan bertolak belakang dengan yang sering dikatakan, partai-partai politik seperti yang kita maksudkan—dan saya tidak mengacu pada partai-partai bersar berbaju elektoralis—adalah metode terbaik dalam mengobarkan perlawanan yang secara spesifik demokratik, melawan dunia yang sama sekali tidak demokratis. Partai-partai adalah salah satu rantai, salah satu komponen konsepsi kita mengenai strategi revolusioner.

Cat. Kaki

1 Pemberontakan buruh di Jerman: http://en.wikipedia.org/wiki/March_Action

*Daniel Bensaid (1946-2010) adalah salah seorang filsuf Marxis paling terkenal di Perancis dan menulis banyak hal terkait filsafat dan topik lainnya. Ia selama puluhan tahun adalah anggota penting LCR (seksi Fourth Internasional di Perancis) dan kemudian NPA. Ia juga anggota pimpinan pusat Fourth International, khususnya mencermati perkembangan di Amerika Latin, seperti Brazil di era 1970an dan 1990an.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s