Cara mempertahankan dan meluaskan politik mobilisasi kelas pekerja

Saya akan terus ambil kesempatan membantu orang lain memahami asal usul sistem ini dan mengajaknya bergabung dalam perjuangan.

“Saya akan ambil setiap kesempatan membantu orang lain memahami asal usul sistem ini dan mengajaknya bergabung dalam perjuangan”

Tulisan di bawah ini adalah ekstrak (sari) dari artikel yang berjudul ‘Pergerakan Dilanda Masalah dan Perspektif untuk Perubahan”, ditulis tahun 2010 oleh David Camfield, seorang intelektual dan aktivis Sosialis di Kanada, Profesor studi perburuhan di Universitas Manitoba, dan pengarang buku “Canadian Labor in Crisis: Reinventing the Workers’ Movement”.

Dilatarbelakangi oleh situasi pemogokan nasional di Perancis pada tahun 2010, dan meluasnya dukungan dari kalangan mahasiswa dan organisasi sosial lainnya. Walaupun pemogokan tersebut belum berhasil memenangkan tuntutan buruh, tetapi tidak bermakna kekalahan, karena gerakan berhasil mendeskriditkan Presiden Sarkozy sebagai Presidennya kaum kaya, dan gerakan juga berhasil menguatkan pergerakan buruh secara umum. Situasi yang sama tidak terjadi di Kanada, negeri asal penulis. Di sana, justru gerakan buruh sedang mengalami stagnasi yang hebat. Rumusan di dalam artikel ini adalah tawaran gagasannya untuk pembaharuan di dalam pembangunan gerakan kelas pekerja.

Saya pilih artikel ini untuk diterjemahkan karena rumusan yang ditawarkannya sangat penting menjadi refleksi para aktivis kiri di negeri kita, khususnya yang bekerja dikalangan buruh, dan bagi aktivis-aktivis buruh itu sendiri. Walau situasi objektif antara Kanada dan Indonesia berbeda, namun kesimpulan-kesimpulan praksis dalam rumusan ini saya rasa relevan dalam konteks pembangunan gerakan kelas pekerja di sini, khususnya setelah pemogokan nasional Oktober 2013 lalu.

Semoga bermanfaat.

Zely Ariane, penerjemah.

Perubahan seperti apa?

Bagaimana semestinya pergerakan kelas pekerja berubah agar dapat memobilisasi dirinya, sekaligus mempertahankan mobilisasinya?

  • Lebih banyak demokrasi. Jika anggota tidak mengontrol serikat pekerjanya sendiri serta organisasinya yang lain, orang yang berbeda kepentingan—seperti para staf dan pegawai full-time, bahkan lebih buruk lagi, manajemen atau majikan—yang akan mengontrolnya. Kekuatan organisasi kelas pekerja terletak pada partisipasi para anggota, dan untuk mewujudkannya diperlukan demokrasi yang akan mendorong anggota berkehendak melibatkan diri. Suatu organisasi yang dikelola secara demokratik mengajarkan orang berbagai keterampilan baru dan mendongkrak kepercayaan dirinya. Hal ini membuat anggota lebih mungkin menggunakan kekuatan kolektifnya. Suatu kebudayaan yang mendorong orang untuk angkat bicara, mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit, dan memperdebatkan isu-isu dengan cara-cara yang bertanggungjawab, adalah hal yang sangat penting dalam pergerakan. Kesalahan tak terhindarkan, namun di dalam organisasi yang demokratik orang dapat belajar dari berbagai kesalahan dan membuat perubahan.

  • Lebih banyak aktivis. Agar pergerakan bertambah kuat, ia membutuhkan lebih banyak orang yang aktif. Ada dua kunci dalam membangun aktivisme. Pertama, orang harus sampai pada pemahaman bahwa perubahan itu adalah keharusan; dan kedua, bahwa melalui kerja-kerjanyalah mereka akan berkontribusi pada hasil yang dikehendaki. Aktivis-aktivis yang efektif adalah para organiser yang mau belajar mengorganisir orang lain. Mereka mengerti bahwa mengorganisir adalah mengorganisasikan seseorang. Yang berarti mengorganisir orang untuk mengorganisir orang lain.

  • Aktivis-aktivis yang lebih baik. Sebagian besar pendidikan serikat pekerja bertujuan untuk membantu pekerja mengatasi kasus-kasus dan perkara aduan pelanggaran serta negosiasi kontrak—hal-hal yang terkait serikat buruh kontrak. Aktivis pergerakan kelas pekerja, baik yang terlibat di serikat pekerja maupun organisasi lain, membutuhkan lebih dari ini. Aktivis-aktivis tingkat basis/akar rumput harus mampu berpikir dan bertindak untuk diri mereka sendiri, menjadi lebih tidak bergantung pada petugas-petugas fulltime dan staf. Banyak pelajaran yang diperlukan para aktivis, terkait cara memobilisasi yang demokratis, hanya bisa didapatkan dari pengalaman langsung, melalui uji coba praktek. Pelajaran yang diperolah dari hasil perjuangan ini perlu dibagikan.

  • Juga banyak hal tidak dapat dipelajari hanya dari pengalaman pribadi (bahkan belajar dengan cara ini bisa lebih sulit), termasuk pemahaman dasar mengenai bagaimana kapitalisme bekerja, apa hubungannya dengan para pengusaha dan pemerintah, serta berbagai bentuk penindasan dan sejarah pergerakan. Semua ini menghendaki jenis pendidikan yang berbeda dari program pendidikan yang biasanya diberikan serikat buruh untuk para aktivis.

  • Kepemimpinan basis/akar rumput yang mencerminkan kelas pekerja. Lapisan aktivis di tempat kerja dan sekitarnya semestinya beragam dalam hal gender, suku, ras, seksualitas dan pekerjaannya sebagai kelas pekerja.

  • Militansi yang lebih tinggi. Metode-metode militan adalah metode yang aktif dan tegas mendesak, seperti pemogokan yang menuntut, pendudukan, dan bentuk-bentuk aksi langsung lainnya. Militansi tidaklah—seperti yang sering dibilang oleh media-media korporasi—sama dengan kekerasan. Militansi mengacu pada alat yang digunakan orang untuk mendesakkan tuntutan mereka, sementara radikalisme merujuk pada tujuan akhir yang hendak dicapai.

  • Lebih banyak radikalisme. Sam Gindin menyarankan: “orang-orang sebelah di sebelah sana (kelas penguasa) bahkan sudah mengerti bahwa… pilihan-pilihan mereka semakin terpolarisasi. Demi mempertahankan keistimewaannya, mereka berkesimpulan bahwa mereka harus menjadi lebih radikal. Kita harus mengambil pelajaran dari situ, namun, tentu saja, dari perspektif kita sendiri.” Menjadi radikal tidak berarti menjadi kejam atau tidak rasional. Radikal berarti merujuk pada akar persoalan yang dihadapi manusia dan bekerja untuk perubahan fundamental terkait cara masyarakat diorganisasikan.

  • Lebih independen. Kaum buruh perlu menjadi lebih sadar bahwa kepentingan mereka berbeda dari—dan bertentangan dengan—kepentingan kelas dominan (kelas penguasa). Karena kepentingan mereka yang berbeda, organisasi buruh harus mencoba lebih independen dari pengusaha, sistem hukum, dan partai-partai politik yang ada.

  • Komitmen untuk memobilisasi dan mengorganisasikan keseluruhan kelas pekerja. Kita tidak boleh membiarkan pembedaan artifisial antara buruh berserikat dan tak berserikat yang membuat kita berhenti membayangkan dan membangun kembali suatu komunitas dimana tak seorangpun berdiri sendiri: suatu gerakan untuk harapan, keadilan dan solidaritas. Hanya berfokus pada serikatnya sendiri, pada buruh-buruh tak berserikat, pada orang-orang berpendapatan rendah, pegawai rendahan atau bagian kelas pekerja lainnya, adalah tindakan yang picik. Kelas pekerja itu luas, beragam dan terfragmentasi. Membangun suatu pergerakan dari dan bagi semua buruh haruslah menjadi tujuan. Hal ini tidak bisa dilakukan melalui serikat pekerja saja. Penting bagi serikat pekerja mendukung dan bekerja dengan organisasi-organisasi berbasis komunitas (organisasi-organisasi rakyat—ed), termasuk organisasi-organisasi buruh yang memprioritaskan diri mengorganisasikan pekerja berupah rendah dan rentan.

  • Solidaritas yang lebih luas dan mendalam. Karena kelas pekerja dipecah belah dengan berbagai macam cara, solidaritas harus secara aktif dibangun. Slogan serikat buruh dahulu yang berbunyi “luka satu orang adalah luka semua orang” perlu menjadi tidak sekadar retorika. Perbedaan seringkali disebabkan oleh struktur pekerjaan. Misalnya, pemisahan antara pekerja sektor publik (pegawai) dan swasta. Pembedaan lainnya berakar pada rasisme, seksisme, dan bentuk-bentuk penindasan lainnya. Buruh yang menjadi bagian masyarakat yang diistimewakan dibanding bagian lain yang tertindas, memiliki tanggungjawab lebih untuk memberikan solidaritas. Contohnya, buruh-buruh berkulit putih yang tidak mengalami rasisme. Membangun persatuan antara buruh kulit putih dengan orang-orang yang menjadi korban langsung dari rasisme, menghendaki buruh-buruh kulit putih mendidik diri mereka sendiri mengenai rasisme dan melawannya. Membangun solidaritas juga mendorong anggota-anggota serikat pekerja untuk mendukung perjuangan keadilan sosial oleh orang-orang yang tidak terorganisir secara sadar sebagai buruh (meskipun sebagian besar dari mereka mungkin adalah bagian dari kelas pekerja). Contohny,a ikut mengampanyekan pengurangan emisi gas rumah kaca, menuntut penghapusan kekerasan terhadap perempuan, serta memenangkan status penduduk tetap bagi para imigran yang tak diberikan status. Solidaritas juga perlu diluaskan untuk melawan penindasan terhadap orang-orang yang bukan bagian kelas pekerja—contohnya masyarakat adat yang kehilangan lahan pencaharian dan mempertahankan teritori adat mereka dari perampasan korporasi. Terakhir, solidaritas mesti berskala internasional, mendukung rakyat di Meksiko, AS, dan belahan benua lainnya.

Apa yang ditawarkan oleh perubahan ini lebih dari sekadar pembaharuan pergerakan dari bentuknya saat ini. Membuat perubahan-perubahan ini akan menemukan kembali gerakan kelas pekerja.

Saat ini sedikit orang, bahkan dikalangan kiri, yang mendorong tujuan ini. Namun dari yang sedikit itu kita perlu memulai diskusi serius mengenai keadaan pergerakan dan bagaimana melakukan apapun yang kita bisa untuk berkontribusi sekecil apapun. Penting sekali memulai pekerjaan ini dari kenyataan bagaimana pekerja diorganisir oleh sistem kerjanya dan perlawanannya hari ini, bukan memulainya dari cita-cita membangun gerakan berbeda yang digambarkan di atas.

Langkah-langkah kecil yang dilakukan oleh orang-orang radikal yang bekerja bersama orang lain yang juga mau melawan dengan lebih efektif, sesungguhnya lebih potensial ketimbang inisiatif oleh kaum radikal sendirian. ***

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s