Membangun solidaritas melawan pertambangan anti rakyat

4 desLatifah Widuri, Politik Rakyat Kalimantan Timur

Samarinda, 4 November 2013 – Politik Rakyat, Perempuan Mahardhika, dan Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (Pembebasan) Samarinda menggelar sebuah Diskusi Publik bertema Berpendidikan tapi terbelakang, bergaul tapi minim solidaritas; Mahasiswa Berharap Kerja dari MP3EI, Rakyat Panen Bencana”. Diskusi ini merupakan rangkaian pra kondisi menyambut konsolidasi pergerakan Indonesia Timur melawan tambang anti rakyat yang akan dilaksanakan pada 19-20 Desember 2013 mendatang, di kota Palu, Sulawesi Tengah.

Kahar Al Bahri (Ocha) Koord. JATAM Kaltim

(kanan) Kahar Al Bahri (Ocha) Koord. JATAM Kaltim, (kiri) Yakub Anani, Politik Rakyat Kaltim

Diskusi menghadirkan Kahar Al Bahri, atau dikenal sebagai Ocha, koordinator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Kalimantan Timur, dan Zely Ariane, koordinator Hubungan Internasional Politik Rakyat, sebagai pembicara. Seorang guru besar Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, yang dikenal progresif atas sikapnya terhadap masa depan lingkungan, yang semula dijadwalkan hadir, pada akhirnya hanya dapat mengirimkan makalah untuk acara tersebut. Diskusi dihadiri sekitar 60 peserta mahasiswa perwakilan lembaga internal dan eksternal kampus, juga mahasiswa umum. Juga hadir perwakilan serikat buruh dan petani korban tambang.

Yoyok Sudarma, Juru Bicara Politik Rakyat Kalimantan Timur, membuka acara dengan menyajikan ironi dalam situasi pendidikan dan civitas akademika di kampus yang semakin tumpul analisa sosialnya dan lebih banyak menyelenggarakan dan mendorong mahasiswa terlibat dalam seminar-seminar dan pertemuan-pertemuan bertema kewirausahaan. Mahasiswa dibuat semakin jauh dari urusan-urusan publik, dan semakin disibukkan dengan urusan kehidupannya sendiri-sendiri. Yang pada akhirnya menenggelamkan mereka pada kesulitan hidup yang padahal tak bisa diatasi sendiri.

Diskusi ini bertujuan mengajak mahasiswa lebih peka dan kritis terhadap sistem pendidikan yang tidak berorientasi sosial saat ini, mensosialisasikan latar belakang pendekatakan pembangunan pemerintah melalui MP3EI (Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia) yang sekilas seperti memberi harapan pekerjaan pada mahasiswa, namun sesungguhnya adalah percepatan pengerukan SDA, dalam hal ini di Kaltim, yang menjadi salah satu front pelelangan sumber daya di Timur Indonesia.

Diskusi juga ingin mengajak mahasiswa lebih peka terhadap permasalahan lingkungan di Kaltim yang sebagian besar disebabkan oleh pengelolaan tambang yang tidak perduli lingkungan dan warga. Harapannya akan menjadi pemantik untuk timbulnya solidaritas yang lebih dari mahasiswa, untuk menggalang persatuan gerakan perlawanan terhadap sistem yang berlaku, dan pada khususnya, melawan tambang anti rakyat.

Rekor banjir dan ijin tambang

Dalam presentasinya, Kahar Al Bahri (Ocha), memaparkan situasi pengerukan SDA di Kaltim yang setiap tahun semakin meningkat dengan angka yang semakin tidak masuk akal. Kaltim bahkan seharusnya masuk dalam Guinness Book of the Record sebagai kota dengan ijin tambang terbanyak di seluruh dunia. Bahkan, di atas kertas luas daratan yang memiliki Ijin Usaha Pertambangan (IUP), logging, sawit dan hutan lindung (21,7 juta ha) lebih luas daripada wilayah provinsinya (19,88 jt ha). Untuk konsesi tambang batubara di Kalimantan Timur sendiri meningkat pesat dari 633 IUP di tahun 2007 melonjak menjadi 1488 tahun 2012 dengan total lahan dari 1,725 juta ha menjadi 5,410 juta ha. Wilayah konsesi tambang batubara, kebun kelapa sawit dan HPH tahun 2012 bahkan telah menutupi seluruh kawasan Pulau Kalimantan.

Kecamatan Samboja, yang hanya memiliki 21 Desa/kelurahan, bahkan diobral murah melalui 90 IUP Batubara oleh Pemkab Kutai Kartanegara. Inilah salah satu, kalau tidak satu-satunya, kabupaten penerbit IUP batubara terbanyak di Indonesia saat ini. Kecamatan Samboja adalah kawasan penopang pertanian yang kini sudah dikorbankan.

Kemana hasil tambang tersebut dibawa? Yang pasti bukan untuk kebutuhan dalam negeri. Negara-negara Asia seperti Jepang, Cina, Taiwan dan Korea Selatan adalah sasaran ekspor batubara Kalimantan yang mencapai 88% yakni sebesar 99 juta ton. Kemudian Eropa 10% sebesar 11 juta ton ke negara-negara seperti Itali, Swiss dan Belanda. Sisanya tersebar ke Australia, Amerika Serikat, Amerika Latin dan Afrika.

Atas situasi inilah pemandangan bencana dan korban jiwa seakan-akan menjadi hal yang semakin biasa. Setidaknya 343 bencana rata-rata pertahun terjadi sejak tahun 2009, dan tahun ini banjir sudah melanda 23 kali (sumber: Andhika-Mogabay). Ironisnya, tingkat adaptasi warga bisa sangat mencengangkan, dalam wujud bisnis mengangkat/menaikkan rumah agar bebas banjir. Bisnis ini nilainya besar, bisa mencapai 30 juta sekali melakukan jasa pengangkatan rumah.

Selain bencana, dampak terburuk juga ditimpakan pada kaum perempuan, yang ketika pelepasan lahan tak pernah dilibatkan oleh laki-laki kepala keluarga, padahal mereka yang lebih banyak bekerja mengelola tanah sehari-hari. Mereka menjadi korban pertama perdagangan orang: dimobilisasi sebagai pekerja seks yang marak di seputar wilayah tambang. Penyakit menyerang berbagai usia terkait pernapasan dan paru-paru, ketiadaan pasokan listrik ditengah-tengah pasokan batubara yang tinggi, kematian anak karena terperosok bekas lubang galian tambang, dan berbagai persoalan sosial lingkungan hidup lainnya.

Dipenghujung presentasinya, Ocha mengingatkan bahwa bila semua ini terus dibiarkan maka Kalimantan Timur akan menjadi daerah wisata bencana paling menarik di Indonesia.

Marahlah dan luaskan pergerakan kontrol tambang

Dalam situasi yang tidak sedang baik-baik saja ini, mahasiswa yang dibesarkan oleh kampus yang sudah sangat komersil setelah diberlakukannya UU Perguruan Tinggi, semakin ditarik menjauh dari persoalan-persoalan riil kehidupan masyarakat. Kampus dengan kurikulum dan para pengajar yang pro pasar bebas mengajarkan mahasiswa disiplin pasar dan individulisme yang anti kritik. Mahasiswa semakin tumpul dan tidak berprestasi karena sistem pendidikan yang juga tidak mencerdaskan. Mereka hanya dididik untuk menjadi pekerja yang patuh dan rajin.

Hal ini sejalan dengan kepentingan MP3EI yakni: perampokan sumber daya alam dengan cepat dan masif dengan legitimasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Mahasiswa-mahasiswa semacam tadi yang dihasilkan oleh kampus pro pasar bebas yang menopang propaganda pertumbuhan ekonomi dengan bayaran kemiskinan rakyat dan kerusakan alam. Buktinya, dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup tinggi lebih dari 6% saat ini, keuntungan atau ceceran pertumbuhan hanya dinikmati oleh orang-orang terkaya baru yang lahir dari proses itu. Apakah rakyat Indonesia dapat untung ketika beberapa nama milyarder Indonesia masuk dalam peringkat orang-orang terkaya dunia? Perlu diingat bahwa sumbangan profit pertambangan dan industri ekstraktif pada umumnya menyumbang pelonjakan kekayaan mereka saat ini.

Zely Ariane, Hubungan Internasional Politik Rakyat

Zely Ariane, Hubungan Internasional Politik Rakyat

Zely Ariane, menekankan hal tersebut dalam presentasinya. Ia mengatakan bahwa orientasi industrialisasi ke bagian Timur Indonesia saat ini, dalam skenario MP3EI, bukannya tanpa alasan. Bagian timurlah wilayah kaya pertambangan dengan areal lahan yang masih luas dan belum dieksploitasi. Sementara krisis ekonomi kapitalis di negeri-negeri Eropa dan Amerika Serikat menghendaki investasi jangka pendek ke wilayah-wilayah baru kaya bahan galian dan lahan dengan tenaga kerja murah dan perijinan yang cepat. Mereka juga membutuhkan pasokan murah bahan-bahan mentah tersebut untuk pasar Asia yang sedang berkembang karena pertumbuhan di China dan India. Indonesia bagian timur cocok dalam skenario tersebut.

Apakah ini lantas bermakna kesempatan bagi rakyat bagian timur Indonesia? Tidak. Liberalisasi investasi dalam MP3EI tidak akan memberdayakan tenaga kerja lokal, terbukti tak satupun infrastruktur diarahkan pada pengembangan kapasitas pendidikan dan keterampilan. Masuknya pekerja-pekerja asing akan memperbesar jurang pendapatan dan konflik horizontal. Apalagi menu utama MP3EI, pertambangan dan perkebunan (Sawit), tidak akan membuka lapangan kerja yang luas bagi para pencari kerja baru di wilayah timur. Oleh karena itu, menyatukan dan memperluas perlawanan adalah satu-satunya jalan menghadapi ancaman penyingkiran penghidupan rakyat ini.

Bagaimana melakukanya? Membangun penyadaran adalah prasyarat. Masih sangat sedikit rakyat mengerti hubungan antara bencana, konflik sumber daya alam (perampasan tanah), hak azasi manusia dan ketenagakerjaan, serta akumulasi kapital di tataran nasional dan internasional yang menjadi pendorongnya. Perlawanan yang sekarang terjadi dan di beberapa tempat berlangsung dengan teguh, masih berpusar pada mempertahankan hak atas tanah. Hal itu penting tapi tidak cukup. Potensi perlawanan rakyat sekarang yang sedang berkembang: petani yang mempertahankan tanah, buruh menuntut kesejahteraan, masyarakat adat yang menolak komodifikasi hutan mereka, pemuda mahasiswa yang peduli kesejahteraan dan keadilan, perempuan yang melawan kekerasan dan penomerduaan, adalah sekutu-sekutu perjuangan. Serangan MP3EI dalam wujud pertambangan dan perkebunan akan maksimal dihadang dengan kekuatan perlawanan tersebut.

19-20 desDalam kepentingan itulah penyelenggaraan konsolidasi korban tambang dan aktivis Indonesia timur yang bersolidaritas, pada 19-20 Desember 2013 mendatang, adalah titik berangkat yang penting. Korban dibeberapa tempat telah melawan, sementara di banyak tempat belum. Korban yang melawan masih merasa sendiri dan dihadang berbagai konflik horizontal. Dialog antar korban dan sektor-sektor masyarakat yang berkaitan adalah awal yang penting untuk menyusun rencana perlawanan yang lebih masif.

Membangun pergerakan mengontrol tambang adalah pembuka jalan untuk melakukan penyadaran secara luas terkait keseluruhan orientasi ekonomi negeri yang pro kapitalis. Selagi sumber daya alam digunakan untuk kepentingan profit dan bukan kemanusiaan maka bencana adalah niscaya ketimbang manfaat. Penyadaran dapat dilakukan dengan banyak cara: bacaan, video, teater, aksi-aksi kampanye, dan beragam kreativitas lainnya.

Masa depan industri pertambangan

Para peserta menanggapi diskusi dengan pertanyaan yang banyak mengerucut pada masa depan industri pertambangan. Ocha mengatakan bahwa cara menempatkan industri tambang adalah dengan melihatnya satu paket dengan hak azasi manusia, dengan hutang ekologi dan hak atas tanah. Bila ketiga hal itu tidak dipenuhi, tambang hanya akan membawa bencana.

Zely menambahkan dengan memberi tekanan pada perubahan visi industrialisasi jika hendak membangun masyarakat yang sosialis. Visi tersebut harus diletakkan pada pembongkaran logika pertumbuhan ekonomi kapitalis—yang ditopang oleh konsumsi dan produksi tanpa batas—yang dibuat mungkin oleh energi fossil, yang padahal adalah sumber utama pemanasan global dan perubahan iklim. Pembangunan industri yang terencana dan berkelanjutan oleh pekerja dan warga adalah tujuannya, bukan oleh dikte kapital. Sehingga energi fosil bukanlah satu opsi yang harus dipertahankan. Sumber-sumber energi baru sudah tersedia dan semakin punya landasan untuk dikembangkan, jika kontrol industri ada di tangan rakyat dan bukan kapitalis.

Tapi semua ini barulah visi di atas kertas, yang hanya bisa digerakkan oleh pergerakan rakyat yang sadar akan saling terkaitnya kepentingan antar mereka: petani dan masyarakat adat yang sadar dan bersatu dengan kaum buruh sama-sama memprotes pertambangan, dari isu kondisi kerja, perampasan tanah hingga limbah. Hal ini hanya bisa dilakukan dengan latihan dalam praktek perjuangan bersama mengontrol tambang, tidak ada cara lain. Contoh-contoh perlawanan serupa dari berbagai negeri yang telah lebih maju pergerakannya dapat dijadikan inspirasi.

Oleh karena itulah ajang-ajang seperti ini akan terus dilajukan guna menggali kembali gagasan kita dalam membangun industri nasional seperti apa yang diinginkan dan berpihak pada rakyat serta alam. Solusi hanya bisa lahir dari dialog, penyadaran dan pergerakan riil yang dibangun bersama seluruh korban.

Yang pasti kita berpacu dengan waktu, karena: “dunia (memang) telah berganti rupa” tetapi belum tentu untuk kemenangan kita, kecuali kita bergegas mewujudkannya, sebelum becana-bencana berkejaran dihadapan mata.***

4des 4des1 4des2 4des3 4des4 4des5

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s