“22 Juli adalah tonggak anti kediktatoran, melawan politik militer orde baru”

prd“Kalau (22 Juli) dirayakan oleh PRD yang sekarang bangga disubordinasi oleh musuh rakyat, kan jadi aneh…”

Redaksi Politik Rakyat Online melakukan perbincangan singkat terkait 22 Juli, hari lahirnya Partai Rakyat Demokratik (PRD), kepada salah seorang mantan pimpinan partai tersebut, yang sekarang juga merupakan salah seorang pendiri Politik Rakyat.

Berikut percakapan kami.

Bagaimana ceritanya bisa bergabung dengan PRD dan kenapa sekarang tidak lagi?

Aku lupa kapan tepatnya bergabung ke PRD, tapi tidak lama sebelum Soeharto tumbang, di Jogjakarta. Mungkin lebih tepatnya PRD yang mengajak bergabung ya. Awalnya aku tahu ada SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi), juga tahu ada Persatuan Rakyat Demokratik. Umumnya di tempatku sekolah juga tahu (PRD), karena memang termasuk ‘sarang’ PRD. Lalu sewaktu Persatuan Rakyat Demokratik diputuskan menjadi Partai Rakyat Demokratik, informasi itu menyebar juga disekitarku: ‘Kita sudah punya partai sekarang’. Kemudian masuk pada periode crack down, di arena politik muncul melalui komite-komite. Nah, aku menjadi bagian PRD setelah aktif di dalam komite-komite tersebut, sebelumnya tidak masuk dalam lingkaran organisasi partai. Terutama Nining lah kawan yang menjadikanku PRD, sekaligus mengajariku banyak hal. Terima kasih sekali untuknya.

Waktu itu tidak sulit belajar tentang komitmen juang. Walau terasa sulit tapi bentuk kongkretnya banyak. Wujud keberanian untuk rakyat bisa lebih baik, dan secara demokratik mengubah kepentingan pribadi menjadi kepentingan umum. Setiap saat dipacu untuk semakin berani demi ruang demokrasi, sehingga partai akan leluasa membangun sosialisme bersama lautan massa.

Tapi itu dulu…

Sekarang aku tidak lagi bernaung dalam PRD, he..he.. Mungkin karena dianggap kurang Pancasila-is, sehingga dipaksa keluar oleh pimpinan PRD. Kan PRD sekarang ini khawatir disebut Partai Sosdemkra (Sosial Demokrasi Kerakyatan), dan lebih bangga dianggap Partai Pancasila.

Ini terjadi setelah Papernas (Partai Pembebasan Nasional, yang turut dibentuk PRD dan direncanakan menjadi partai yang lebih luas–ed) gagal maju pemilu 2009. Ketika Papernas didirikan, PRD masih berslogan ‘membangun sosialisme dengan pemberontakan rakyat’. Tetapi ternyata hanya karena arena pemilu, PRD jatuh-bangun-jatuh dan mati.

Kalah pemilu di tahun 1999 sudah ditandai dengan kaburnya beberapa pimpinan partai. Ketika Pemilu 2004 tidak bisa ikut, beberapa tokoh PRD sudah berada di partai borjuasi. Seingatku dulu yang menyeberang ke partai lain itu selalu dikecam, atau minimal di kalangan internal dianggap durhaka. Tapi nyatanya pada pemilu 2009, segala yang dikecam itu dijadikan haluan partai, dan yang menolak (haluan itu) malah dikecam sebagai durhaka. Bedanya, di tahun 2009, bukan orang memilih mundur dari PRD agar bisa bergabung ke partai borjuasi, melainkan orang malah dipaksa mundur karena tidak setuju pimpinan yang hendak membawa partai ke dalam partai borjuasi. Caranya juga istimewa di tahun 2009 itu: pertama, pimpinan partai merasa sah untuk membelah organisasi dan kader disuruh memilih, kemudian memecat siapapun yang akhirnya memilih menolak penyatuan ke Partai Bintang Reformasi-PBR (haluan yang ditawarkan pimpinan partai saat itu—ed).  Aku bagian yang menentang politik subordinasi itu, dan dipaksa tidak PRD lagi.

Ya, ini kekalahan bagiku, dan bukan yang terakhir. Bagiku PRD yang telah 10 tahun menjadi partai dengan politik sosialis yang menonjol, adalah karya besar. Dan aku sempat merasakan sedikit tahun-tahun yang membanggakan itu. Selepas dari PRD, upaya membangun partai nyatanya kualami hanya sesaat, kemudian jatuh lagi, kalah lagi. Kalah kan kenyataan, yang penting tidak menyerah, ya to? Apalagi yang menyerah kan hanya aktivis-aktivisnya, kalau rakyat malah bertambah antusias untuk progresif.

Lalu apa yang paling dianggap penting atau yang paling diingat terkait 22 Juli yang diperingati sebagai ulang tahun PRD itu?

Bagiku 22 Juli lebih utama sebagai tonggak politik anti kediktatoran dan multi partai, dan deklarasi PRD adalah bagian konkret yang terpenting. Selamanya bagus mengingat 22 Juli 1996. Tapi akan lebih bermakna malah jika bukan PRD yang membuat peringatannya. 22 juli itu sekali lagi tonggak anti kediktatoran, tonggak melawan sub-ordinasi terhadap politik militer orde baru. Kalau dirayakan oleh PRD yang sekarang bangga disubordinasi oleh musuh rakyat, kan jadi aneh. Bagiku, tak berhak lagi PRD sekarang menanggok kemuliaan sejarah 22 Juli 1996. PRD sekarang ini kan hanya jamurnya PRD, yang hidup dari pengorbanan kawan, dan mematikan politik PRD 1996.

Bila hendak disimpulkan, apa peran PRD yang paling penting dalam sejarah gerakan rakyat Indonesia?

Banyak hal baik yang sudah dihasilkan PRD. Salah satu yang terpenting menurutku adalah memberi bentuk paling menentukan bagi keresahan dan ketertindasan rakyat, sehingga menjadi kekuatan menyerang yang besar dan politis. Kupikir gerakan rakyat Indonesia secara strategi dan taktik menjadi punya patokan lagi, punya tonggak lagi setelah beragam tonggak dihancurkan Orde Baru. dan itu dilakukan melalui organisasi independen, aksi massa, selebaran dan Koran, dan lain sebagainya, termasuk kesadaran anti militerisme dan kapitalisme. Hal-hal baik itu memang bukan semata-mata karena PRD yang mengembalikannya menjadi kekuatan rakyat, tetapi dengan adanya PRD, pergerakan menjadi lebih politis, me-nasional, lebih berani, membawa tuntutan konkret, terarah dan kiri.*

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s