Mengapa Kaum Sosialis Membutuhkan Feminisme [1]

feminisOleh David Camfield*

Hubungan antara sosialisme dan feminisme telah mendapat lebih banyak perhatian dalam diskusi online belakangan ini. Baik untuk alasan yang baik—seperti artikel oleh Sharon Smith[2]  dari International Socialist Organization (ISO) di AS yang tampak kritis terhadap cara Partai Buruh Sosialis (SWP) di Inggris, yang sangat mempengaruhi politik ISO, berurusan dengan feminisme—maupun untuk alasan yang buruk, terutama krisis yang terjadi di SWP saat ini, berangkat dari cara yangpenanganan yang memalukan atas tuduhan perkosaan terhadap seorang anggotanya yang terkemuka[3].
Gagasan bahwa kaum sosialis harus pula menjadi feminis tidak begitu kontroversial bagi banyak kaum sosialis revolusioner. Namun mengapa sosialisme membutuhkan feminisme, masih berharga untuk dijelaskan.

Semua masyarakat di dunia saat ini dibentuk oleh penindasan terhadap perempuan atas dasar jender mereka (patriarki/seksisme). Tentu saja terdapat perbedaan penting dalam bentuk apa penindasan ini berwujud karena relasi jender selalu berkelit-kelindan dengan kelas, ras, seksualitas dan relasi-relasi sosial lainnya, yang beragam (contohnya, patriarki di Kanada tidak identik dengan patriarki di Kuba).

Diseluruh dunia, perempuan yang beraksi melawan seksisme biasanya (meskipun tak selalu) mengidentifikasikan dirinya sebagai feminis. Jika kita mendefinisikan feminisme dalam pengertian terluasnya sebagai oposisi terhadap seksisme—yang memang demikianlah maknanya dalam berbagai pidato keseharian saat ini—mestinya menjadi jelas sekali mengapa kaum sosialis harus menjadi feminis.
Namun demikian, sebagian sosialis yang merupakan pendukung berdedikasi terhadap pembebasan perempuan tidak menganggap diri mereka feminis. Seperti yang dicatat Smith, sebagian Marxis, termasuk beberapa yang berada dalam aliran yang sama dengannya, belum “mengerti keperluan untuk membela feminisme, dan untuk menghargai pencapaian pergerakan perempuan yang sangat besar, bahkan setelah era 1960-an membuka jalan bagi reaksi kemunduran” melawan feminisme dan pergerakan rakyat tertindas lainnya.
Namun sebagian sosialis yang telah membela dan menghargai feminisme dan telah aktif dalam perjuangan melawan penindasan jender masih bersikeras bahwa sosialisme tidak membutuhkan feminisme sehingga mereka bukan feminis (ini juga yang diajarkan padaku di masa-masa awalku sebagai seorang sosialis, di akhir 1980-an sebagai anggota Internasional Socialist—yang beberapa anggotanya memang memiliki sejenis pendirian anti-feminis yang sektarian yang dikritik oleh Smith). Mengapa?
Contoh paling baik terhadap posisi ini adalah bahwa politik sosialis revolusioner berkomitmen sangat dalam pada pembebasan terhadap seluruh bentuk penindasan, termasuk penindasan jender, dan oleh karena itu tidak membutuhkan feminisme. Ini seringkali dipelihara bersama keyakinan bahwa feminisme-sosialis adalah cacat karena ia mengadvokasi penyatuan perjuangan kelas pekerja melawan eksploitasi dan segala bentuk penindasan (dilihat sebagai orientasi yang benar) dan pengorganisasian otonom (khusus perempuan) melawan patriarki. Pengorganisasian khusus-perempuan dilihat sebagai (hal yang) meremehkan/merusak politik kelas pekerja karena ia dituduh bermakna politik lintas-kelas yang tidak mengakui bahwa kepentingan perempuan kelas pekerja tidak sama dengan perempuan kelas menengah atau kelas penguasa.
Namun bahkan pendekatan “sosialis, bukan feminis” yang terbaik pun tak akan dapat melakukannya. Klaimnya bahwa karena sosialisme adalah mengenai pembebasan universal manusia sehingga tidak membutuhkan feminisme (sebetulnya) menghindar dari permasalahan sebenarnya: pengorganisasian dan politik sosialis yang ada saat ini bukanlah contoh sempurna yang dikatakan oleh para sosialis ini. Mereka berada di dalam masyarakat patriarkal. Sehingga akibatnya, tindakan dan pikiran para sosialis, tak terhindari, terbatas dan dirusak oleh relasi jender patriarkal dimana kita berkomitmen untuk mencerabutnya. Sehingga kaum sosialis mesti membangun politik kita dengan belajar dari perjuanganyang ada saat ini melawan patriarki (serta belajar dari sejarah). Untuk melakukannya kita membutuhkan feminisme.
Kaum feminislah yang membuat terang bagaimana perempuan ditindas dan bergulat dengan berbagai cara melawan bermacam-macam manifestasi penindasan, dari kekerasan terhadap perempuan termasuk serangan seksual, eating disorder[4] (ganggung-cara makan), hingga bagaimana keluarga, tempat kerja, sekolah, dan berbagai lembaga menekan perempuan untuk menertibkan dirinya sendiri dengan cara tertentu yang berkesesuaian dengan seksisme di dalam ilmu pengetahuan kontemporer, dan banyak lagi.
Namun kaum feminislah yang berada di ujung tombak dari kemajuan apapun yang dihasilkan dalam memahami dan melawan patriarki. Kaum sosialis harus menjadi bagian dari aksi tersebut. Kaum sosialis perlu belajar dari feminisme terbaik (baik feminis sosialis dan lainnya) untuk memperdalam pemahaman kita terhadap penindasan dan bagaimana berjuang untuk pembebasan. Pendekatan “sosialis, bukan feminis” adalah hambatan untuk melakukan hal ini.
Politik “Sosialis, bukan feminis” meremehkan kenyataan bahwa patriarki memiliki dinamikanya sendiri. (Dinamika) ini tidak terpisah dari kapitalisme dan kelas, namun ia juga tidak dapat direduksi pada kapitalisme dan kelas. Teori kapitalisme Marx dibangun oleh feminisme-Marxis untuk menjelaskan mengapa bentuk spesifik sistem tersebut mengabadikan penindasan jender. Hal ini sangatlah penting. Namun demikian, itu juga tidak sepenuhnya menjelaskan patriarki. Untuk melakukannya kita juga mesti menarik—dan membangun—teori feminis dalam suatu cara yang historis dan materialis.
Penolakan sosialis untuk mengombinasikan jender-campuran dan pengorganisasian otonom perempuan adalah suatu kesalahan. Bukannya menjauhkan dari penyatuan perjuangan kelas pekerja, pengorganisasian khusus-perempuan dapat menjadi taktik yang efektif justru untuk membuat persatuan tersebut menjadi mungkin. Dalam masyarakat patriarkal, pengorganisasian jender-campuran tak pernah menjadi arena “bermain” perempuan. Pengorganisasian independen dapat membantu perempuan untuk mengidentifikasi dan mengatasi seksisme dalam aktivitas jender-campuran dan membuat pengorganisasian jender-campuran menjadi lebih anti-seksis. Ia dapat menjadi jalan bagi perempuan untuk mengambil inisiatif tanpa harus menunggu laki-laki agar bisa sejajar dengan mereka. Dan tidak ada alasan (yang menguatkan) bahwa hal itu pasti mengorbankan kepentingan kelas pekerja perempuan demi perempuan kelas menengah atau kelas penguasa.
Persoalan berikutnya terkait pendekatan “sosialis, bukan feminis” adalah ia cenderung mempromosikan suatu kebudayaan, di kalangan kaum sosialis, dimana seksisme tidak dilawan sehebat yang seharusnya. Pada tingkatan dimana (pendekatan) itu menyekat/memisahkan sosialis dari  feminisme, ia (justru) membuat kaum lelaki sosialis lebih mudah menghindarkan dirinya  untuk berurusan dengan persoalan-persoalan yang berat terkait perilaku kita sendiri. Pemisahan dari feminisme juga dapat membuat perempuan kaum sosialis lebih sulit melawan seksisme dikalangan kaum sosialis.
Kaum sosialis yang berhak menyandang nama sosialis berkomitmen terhadap pembebasan universal manusia. Namun terdapat perbedaan besar antara memproklamasikan komitmen dengan membuatnya jadi nyata. Demi membuat politik kita menjadi lebih sungguh-sungguh terhadap apa yang kita kehendaki, sosialis membutuhkan feminisme. Kita harus menjadi sosialis feminis, dan bangga atasnya.
*David Camfield adalah salah satu editor dari New Socialist Webzine.
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s